Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menilai redanya ketegangan geopolitik internasional dan penurunan harga komoditas energi global dinilai sebagai penyebab menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara signifikan.
Untuk diketahui, pada penutupan sesi I hari ini, indeks melonjak 236,13 poin atau setara 3,39 persen ke posisi 7.207,157 setelah sebelumnya sempat tertekan di kisaran 6.900.
“Dari sisi sentimen, pasar mulai merespons meredanya tekanan global sementara, seperti geopolitik AS yang melunak pasca kesepakatan gencatan sementara dengan Iran,” kata Reydi kepada wartawan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Selain faktor perdamaian di Timur Tengah, bursa saham domestik juga mendapat sentimen positif dari anjloknya harga minyak mentah dunia. Minyak mentah Brent untuk kontrak Juni turun 12,6 persen ke level 91,92 dolar AS per barel, sementara WTI berjangka Mei merosot 16,6 persen ke angka 94,10 dolar AS. Penurunan ini dinilai efektif meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ancaman inflasi global.
Reydi juga menyoroti peran penting dari penetapan status secondary emerging market oleh FTSE Russell bagi pasar keuangan dalam negeri.
“Pasar juga merespons turunnya harga minyak mentah dunia, penetapan status secondary emerging market dari FTSE, dan stabilisasi yield US Treasury. Tidak adanya sentimen negatif baru dari eksternal membuat investor melihat valuasi sudah cukup menarik untuk masuk kembali,” tambahnya.
Kombinasi dari stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan status baru dari FTSE Russell tersebut berhasil menarik minat investor asing untuk kembali mengalokasikan modalnya ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Hingga penutupan perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan akan tetap bergerak stabil. Reydi memproyeksikan indeks akan bergerak dalam rentang konsolidasi di angka 7.150 hingga 7.250.[]
